Allah SWT telah memberikan pada diri
manusia potensi hidup yang tercermin pada tiga potensi (khosyiyah), yakni: kebutuhan jasmani, naluri-naluri dan akal
(idrok). Semuanya telah ada pada diri
manusia yang hidup. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana menggunakannya?
Karena bagaimanapun semua potensi hidup itu pasti ada dan selalu melekat pada
setiap diri manusia dimanapun, dalam posisi apapun, dan kondisi apapun.
Kebutuhan-kebutuhan jasmani dan
naluri-naluri yang melekat tersebut pasti selalu menuntut pemenuhan. Dan manusiapun pasti akan selalu berusaha
untuk memenuhinya karena pembangkit internal untuk kebutuhan jasmani dan
pembangkit eksternal untuk naluri-naluri.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia mempergunakan organ tubuh
serta fungsi-fungsi organ tubuhnya untuk melakukan aktivitas agar dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dan naluri-nalurinya.
Selagi manusia terus melaksanakan
berbagai aktivitas untuk memenuhi naluri-naluri serta kebutuhan jasmaninya,
maka ia berusaha merealisasikan tujuan (qoshdu)
pada setiap aktivitas yang dilaksanakannya. Tujuan-tujuan ini bisa berupa
menjaga kelestarian jenisnya, ingin mendapatkan materi, menaikkan jabatannya,
menaikkan pangkatnya, ingin dihargai orang lain, ingin dapat pahala, dan
tujuan-tujuan lainnya yang sangat manusiawi.
Tujuan-tujuan inipun sejalan dengan potensi manusia, pasti selalu saja
ada dalam diri manusia. Namun mana yang
dominan, tentu setiap orang berbeda-beda.
Tergantung apa yang melatar
belakangi pikirannya terhadap tujuan tersebut. Kalau
seseorang menganggap bahwa materi adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan
kehidupannya, maka dia akan berusaha mati-matian dengan menghalalkan berbagai
cara untuk mendapatkannya. Kalau jabatan, pangkat, prestise menjadi
satu-satunya yang dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidupnya, tentu akan
diraih meskipun harus mengorbankan idealisme dan norma-norma kepatutan.
Gesek sini, gesek situ, sikat sini, sikut situ sudah menjadi pemandangan yang
lumrah di lingkungan kita hidup, baik di rumah, di kantor, di pasar, di gedung
DPR, di partai. Atau malah seseorang
hanya ingin mendapatkan Ridha Allah SWT dengan pahala disisinya, maka dia akan
berupaya mendapatkannya sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
Apapun pandangan ataupun latar
belakang yang mendasari seseorang ingin merealisasikan tujuannya, sebenarnya Islam
telah mengatur aspek ini dengan sangat rinci dan manusiawi untuk
dilaksanakan. Allah SWT telah menentukan
nilai bagi manusia untuk setiap aktivitas WAJIB direalisasikan ketika
melaksanakan aktivitasnya.
Apabila kita meneliti hukum-hukum
syari’at yang menuntut kita untuk melaksanakan berbagai aktivitas, niscaya kita
menemukan bahwa nilai-nilai perbuatan yang harus direalisasikan dan
dilestarikan adalah terdapat 4 (empat) nilai yaitu:
a.
Nilai
materil (qimah madiyah),
b.
Nilai
spiritual (qimah ruhiyah),
c.
Nilai
humanistis (qimah insaniyah)
d.
Nilai moral.
Tidak akan keluar dari keempat ini. Adapun yang lain, itu hanyalah turunan dari
ke empat nilai tersebut.
(Penjelasan selanjutnya pada tulisan berikutnya...NILAI KEHIDUPAN (2)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar